I Love Rain… and You
Lolos moderasi pada: 3 August 2014
Hujan. selalu ada cerita di balik
rerintik itu.. percikannya membawa ku kembali teringat akan suatu masa, namun
bukan masa lalu ku.. juga tak bisa ku bilang untuk masa depan ku. karena aku
sendiri tak tahu. dan tak pernah memulai cerita ini. namun hujan.. pernah
membuat ku memulai suatu keinginan. pernah membuat ku terpaku melihat sesosok
makhluk anggun yang begitu ceria menatap dan bermain dengan gemercik airnya.
Agustus 2005,
Waktu itu hari pertama masuk sekolah. ku
lihat dia saat memasuki gerbang sekolah.. dengan langkahnya yang sedikit
terburu buru melangkah menuju kelas paling ujung deretan kelas satu. aku tak
mengenalnya.. begitu juga dengan dia. namun seringkali pandangan ku selalu tak
sengaja mengarah kepadanya. pertama kali ku lihat dia ketika sedang menatap
hujan turun sambil mengulur tangannya ke depan, menahan tetesan hujan dari atas
atap. lucu sekali terlihat. seperti tak mempedulikan keadaan di sekitarnya. dan
tanpa sadar pun aku terus memperhatikannya yang sedang asik bermain air.
mengayunkan ke dua tangannya.. sesekali melihat ke arah jarum jam tangan. iya.
itulah pertama kali ku lihat dirinya. di gerbang masuk sekolah. berteduh di
bawah pos jaga karena hujan yang menghalangi kami untuk pulang. dan tanpa sadar
pun hari hari berikutnya entah kenapa mata ku selalu mencari sosok itu. meski
aku sendiri tak tahu siapa bahkan namanya. hingga kenaikan kelas pun tiba. dan
disinilah.. aku kembali bertemu dengannya. Aku ternyata sekelas dengannya. tak
tahu betapa girangnya diri ku ketika ku lihat wajahnya sedang tersenyum
memandangi pemandangan luar jendela.. aku sengaja memilih tempat duduk yang
sederet dengannya.
Kelas di mulai. satu per satu murid
murid di absen, dan tiba saat namanya di panggil.. jantung ku sedikit berdegup
tak karuan. “maya..”. mendengar namanya dipanggil si pemilik nama akhirnya
menyahut. dan itu. “dia”. “maya”,
Maya.. gadis pendiam yang tak terlalu memiliki banyak teman.. namun aku senang akan dirinya.. sederhana. dan tak terlalu banyak bicara.. kalau ditanya, cukup sekali atau dua kali saja ia menjawab. selebihnya.. tergantung pada yang bertanya bagaimana ia mau melanjutkannya. dan itu pula yang membuat ku sangat susah untuk sekedar berbicara akrab dengannya, teman bicaranya hanya orang orang tertentu saja yang sudah dikenalnya dengan baik.. selebihnya.. tak akan ada pembicaraan lain.
Maya.. gadis pendiam yang tak terlalu memiliki banyak teman.. namun aku senang akan dirinya.. sederhana. dan tak terlalu banyak bicara.. kalau ditanya, cukup sekali atau dua kali saja ia menjawab. selebihnya.. tergantung pada yang bertanya bagaimana ia mau melanjutkannya. dan itu pula yang membuat ku sangat susah untuk sekedar berbicara akrab dengannya, teman bicaranya hanya orang orang tertentu saja yang sudah dikenalnya dengan baik.. selebihnya.. tak akan ada pembicaraan lain.
Suatu hari.. pada saat jam matematika
yang gurunya terkenal killer di sekolah.. hari itu maya lupa membawa buku PR
hingga harus berdiri di luar kelas, dan tanpa pikir panjang mungkin inilah
kesempatan untuk bisa sekedar ber say hi terhadapnya setelah sekian lama ku
perhatikan. akhirnya ku putuskan untuk pura pura lupa membawa buku PR ku agar
bisa sama sama dihukum oleh pak Guru.
Disinilah kami.. pojok kelas.. berdiri
sambil memegang ke dua telinga dan kaki sebelah diangkat. namun tak sedikit pun
rasa malu ataupun kecewa yang terlintas. bisa berdiri sejajar dan agak
berdekatan dengannya sudah sangat menggembirakan bagi ku.
Sepuluh menit berlalu.. tak ada suara
yang keluar di antara kami. aku mencoba menengok ke arahnya sambil tersenyum
sipu. ku lihat dia sedang memperbaiki letak jilbabnya. dan akhirnya ku
beranikan diri untuk bertanya kepadanya. “kamu kepanasan nggak berdiri dari
tadi? gerah bangat yah. andaikan sekarang turun hujan.. pasti asyik.. dingin
dingin main air” tak tahu sudah kalimat apa yang keluar dari mulut ku.. yang ku
ingat hanyalah ekspresi wajahnya yang begitu bahagia bermain dengan rintikan
hujan waktu pertama kali melihatnya..
Tiba tiba maya menoleh ke arah ku dan
tersenyum manis. dan entah karena grogi.. aku langsung salah tingkah dan
langsung mengalihkan pembicaraan.. “ko’ bisa kamu lupa bawa buku PR? kan tau
sendiri pak Sarman itu terkenal killer.. bisa bisa ntar dapat angka merah lo di
raport”. dan kali ini maya tak hanya tersenyum ke arah ku.. tetapi malah balik
bertanya.. “kamu sendiri kenapa sampai kelupaan juga. kan kamu juga tau sendiri
akibatnya. kalo aku memang nggak sempat ngerjain”. “Yes”.. dalam hati ku
kegirangan.. dan tak akan ku sia sia kan kesempatan ini.
Sejak kejadian waktu dihukum seminggu
yang lalu.. aku lega dan bersyukur karena bisa langsung akrab dengan maya.
mulai dari ngerjain tugas bersama.. bahkan sampai pulang bareng. tak tahu entah
bagaimana ku lukiskan persaan ku saat itu. andaikan hujan turun lagi.. aku
ingin sekali menatap wajahnya sekali lagi ketika memandangi rintikan hujan.
Dung!!!. aku terjaga dari lamunan ku.
jam dinding mengarah pada pukul setengah tiga sore. teriakan dari balik kamar
membuat dunia khayal ku terputus. “dam, kamu gak jadi keluar..? kan katanya mau
beli sesuatu buat persiapan perjalanan besok..” suara mama mengingatkan. segera
ku rapikan tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.
Delapan tahun yang lalu aku dan keluarga
pindah kesini karena papa dipindah tugaskan kesini. waktu itu aku baru naik ke
kelas tiga SMA.. dan terpaksa harus melanjutkan ke tempat tugasnya papa..
karena mau tidak mau kami sekeluarga harus pindah.. mengingat karena tempatnya
sangat jauh. dan disinilah. di kota inilah aku belajar dan melanjutkan
pendidikan ku hingga lulus sarjana. kemudian melanjutkan program Magister ku.
Besok rencananya aku berniat mengunjungi kampung halaman ku dulu. keluarga
keluarga ku disana memaksa ku untuk mengunjungi mereka karena lama tak pernah
keliatan. delapan tahun sejak pindah aku tak pernah lagi balik kesana. dan
sekaranglah waktunya. mumpung ada waktu libur dari pihak kampus ku.
Sepuluh menit lagi bis yang akan ku
tumpangi akan segera berangkat. sengaja ku datang lebih awal ke terminal supaya
ada waktu untuk membeli oleh oleh buat sanak keluarga di sana. Di bis. aku
memilih tempat duduk dekat jendela. biar bisa ku tengok suasana di sepanjang
perjalanan. karena ini akan memakan waktu delapan jam untuk sampai ke tempat
tujuan.
Pipppp. terdengar klakson mobil yang
menandakan bahwa kita telah sampai di terminal tujuan. ku genggam erat tas
ransel ku dan bersiap siap untuk turun. dan tanpa sepengetahuan ku tau tau
paman ku telah berdiri tepat di depan pintu bis berdiri sambil tersenyum
menyambut ku. “selamat datang kembali..” seraya mengambil barang barang yang ku
pegang.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah..
tak henti hentinya paman menceritakan keadaan kampung setelah lama aku dan
keluarga ku tinggalkan. banyak sekali perubahan yang terlihat. sawah sawah yang
dulunya sering ku lewati dan tempat ku bermain.. kini berubah menjadi area
pertokoan dan perumahan perumahan elit. sungguh perubahan yang luar biasa..
namun sedikit ku sayangkan. aku rindu sekali akan suasana yang alami seperti
dulu.
“tutup jendela mobilnya dam, keliatannya
akan turun hujan deras. kamu tunggu disini sebentar. tadi ada titipan bibi mu
yang harus paman beli”.
Segera ku tutup jendela mobil dan mencoba merebahkan diri. karena aku tak bisa pejamkan mata selama perjalanan di bis.
Segera ku tutup jendela mobil dan mencoba merebahkan diri. karena aku tak bisa pejamkan mata selama perjalanan di bis.
Lima menit berlalu. aku mulai resah..
rupanya udara di mobil tak cukup membuat ku nyaman untuk tertidur. di luar
hujan mulai deras. paman belum juga kembali. sekali lagi aku mencoba tengok ke
luar. Sesaat mata ku mengarah pada sebuah situasi di seberang jalan. hujan
deras membuat para pengendara motor di jalan harus berhenti dan mencari tempat
berteduh. sedang asyiknya memandangi orang orang yang sibuk mencari tempat
teduh.. tiba tiba pandangan ku tertuju pada sebuah payung yang berwarna kuning
cerah. terlihat seorang gadis muda di bawahnya berdiri mematung sambil
memperhatikan rintikan hujan yang jatuh dari atap tempatnya berteduh. dan
wajahnya agak tertutup dengan payung yang mengembang di atasnya. rok putih
dengan sweeter kuning yang dikenakannya terlihat basah pada bagian punggungnya.
entah kenapa mata ku tak ingin berkedip memandangnya.
Tiba tiba terdengar suara mobil yang menyala.. tak
sadar bahwa paman ku telah berada di mobil. “liatin apa dam? kok bengong sampai
terkaget begitu tadi..” Tanya paman ku. keliatannya hujannya dah mulai sedikit
reda. takutnya bibi mu menunggu lama di rumah. aku tak bersuara bahkan
menimpali pertanyaan paman ku.. dan kali ini aku benar benar terhipnotis dengan
pemandangan tadi. Gadis yang berpayung kuning tadi. serasa pernah melihatnya di
suatu tempat. wajahnya terasa sangat familiar. dan tanpa sadar mulut ku
mengeluarkan sebuah nama. nama yang dulu pernah membuat ku terasa berat
meninggalkan kota ini. “Maya.” aku menemukannya kembali. tepat di bawah
percikan hujan yang menderai. akhirnya aku bisa melihat mu lagi. adakah engkau
masih mengenali ku setelah sekian lama..? kenapa selalu hujan yang membuat ku
bertemu dengan mu. dan kini sosok Maya bermain main dalam otak ku. aku harus
bertemu lagi dengan mu. Maya.
Cerpen Karangan: Bee
Facebook: hardianti ningsih
Facebook: hardianti ningsih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar